Sambil menyeruput kopi hitam hangat di sudut warung kopi, saya kadang kala memperhatikan obrolan orang-orang. Ada yang mengeluh tentang cuaca yang belakangan terasa semakin gerah, harga barang kebutuhan yang naik, hingga urusan tumpukan sampah plastik yang menyumbat selokan di pertigaan jalan. Semua keluhan itu bermuara pada satu istilah keren yang sekarang dipajang di mana-mana: keberlanjutan atau sustainability . Kata ini menghiasi kemasan air mineral, perumahan mewah, hingga pidato para pejabat. Namun, apakah kita benar-benar paham maknanya, atau ini hanya jimat pemasaran? Jawaban itu bisa kita temukan pada buku yang berjudul Sustainability and Sustainable Development: An Introduction karya Lisa Benton-Short. Mari kita luruskan dulu kesalahpahaman klasik. Apakah sustainability (keberlanjutan) dan sustainable development (pembangunan berkelanjutan) itu sama? Benton-Short menjelaskan keduanya memiliki akar sejarah berbeda. Istilah sustainability lahir pada dekade 1960-an, didorong...
Berbagi ringkasan dan esai sederhana yang bersumber dari buku-buku sosial politik yang menarik untuk dibaca oleh mahasiswa, dosen maupun praktisi pemerintahan.